Kota Sibolga adalah salah satu
Kota di
Provinsi Sumatra Utara.
Wilayahnya seluas 3.356,60 ha yang terdiri dari 1.126,9 ha daratan
Sumatera, 238,32 ha daratan kepulauan, dan 2.171,6 ha lautan.
Pulau-pulau yang termasuk dalam kawasan Kota Sibolga adalah Pulau Poncan
Gadang, Pulau Poncan Ketek, Pulau Sarudik dan Pulau Panjang. Secara
geografis kawasan ini terletak di antara 1 42' - 1 46' LU dan 98 44' -
98 48 BT dengan batas-batas wilayah: Timur, Selatan, Utara pada
Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Barat dengan Teluk Tapian Nauli. Letak
kota membujur sepanjang pantai dari Utara ke Selatan menghadap Teluk
Tapian Nauli. Sementara sungao-sungai yang dimiliki, yakni Aek Doras,
Sihopo-hopo, Aek Muara Baiyon dan Aek Horsik
Sementara wilayah
administrasi pemerintahan terdiri dari tiga kecamatan dan 16 kelurahan.
Ketiga kecamatan itu yakni Kecamatan Sibolga Utara dengan empat
kelurahan, Kecamatan Sibolga Kota dengan empat kelurahan, dan Kecamatan
Sibolga Selatan dengan delapan kelurahan.
Berikut sakilas sejarah terbentuknya kota SIBOLGA, yang saya kutip dari berbagai sumber:
Sultan Hutagalung

Menurut
penulis Sejarah Sibolga, Tengku Luckman Sinar SH—dengan mengutip hasil
catatan riset seorang pembesar Belanda, EB Kielstra - disebutkan bahwa
sekitar tahun 1700 seorang dari Negeri Silindung bernama
Tuanku Dorong Hutagalung mendirikan
Kerajaan Negeri Sibogah, yang berpusat di dekat Aek Doras. Dalam
catatan EB Kielstra ditulis tentang Raja Sibolga: "Disamping Sungai
Batang Tapanuli, masuk wilayah Raja Tapian Nauli berasal dari Toba,
terdapat Sungai Batang Sibolga, di mana berdiamlah Raja Sibolga."
Penetapan
tahun 1700 itu diperkuat analisis tingkat keturunan yakni bahwa Marga
Hutagalung yang telah berdiam di Sibolga sudah mencapai sembilan
keturunan. Kalau jarak kelahiran antara seorang ayah dengan anak pertama
adalah 33 tahun -angka ini adalah rata-rata usia nikah menurut
kebiasaan orang Batak—lalu dikalikan jumlah turunan yang sudah sembilan
itu, itu berarti sama dengan 297 tahun. Maka kalau titik tolak
perhitungan adalah tahun 1998, yaitu waktu diselenggarakannya Seminar
Sehari Penetapan Hari Jadi Sibolga pada 12 Oktober 1998, itu berarti
ditemukan angka 1701 tahun.
Tentang nama atau sebutan Sibolga,
dicerita-kan bahwa pada awal-nya Ompu Datu Hurinjom yang membuka
perkampungan Simaninggir, mempu-nyai postur tubuh tinggi besar, di
samping memiliki tenaga dalam yang kuat. Adalah tabu bagi orang Batak
menyebut nama seseorang secara langsung apalagi orang tersebut lebih tua
dan dihormati, maka untuk menyebut nama kampung yang dibuka Ompu Datu
Hurinjom dipakai sebutan "Sibalgai", yang artinya kampung atau huta
untuk orang yang tinggi besar.
Asal kata Sibolga dengan
pengertian tersebut lebih dapat diterima daripada untuk istilah
"Bolga-Bolga", yaitu nama sejenis ikan yang hidup di pantai berawa-rawa;
atau istilah "Balga Nai" yang berarti besar untuk menunjukkan ke arah
luasnya lautan. Orang Batak biasanya menggunakan kata "bidang" untuk
menggambarkan sesuatu yang luas, bukan kata balga yang berarti besar.
Tapi
apa pun kisah awal kelahiran nama dan Kerajaan Sibolga, kota di Teluk
Tapian Nauli ini telah menjalankan peran sejarah yang sangat berarti. Di
masa lalu Sibolga berjaya sebagai pelabuhan dan gudang niaga untuk
barang-barang hasil pertanian dan perkebunan seperti karet, cengkeh,
kemenyan dan rotan. Inggris bahkan pernah menjadikan Sibolga sebagai
pelabuhan gudang niaga lada terbesar di Teluk Tapian Nauli.
Lebih
dari itu, berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 7
Desember 1842 tempat kedudukan Residen Tapanuli dipindahkan dari Air
Bangis ke Sibolga, dan sejak itulah Sibolga resmi menjadi Ibukota
Keresidenan. Meski statusnya sebagai Ibukota Keresidenan sempat
dipindahkan ke Padang Sidempuan antara tahun 1885 - 1906, namun predikat
itu akhirnya kembali lagi ke Sibolga berdasarkan Staadblad yang
dikeluarkan pada 1906 itu.
Dalam perjalanannya, pada 1850, di
masa Mohd Syarif menjadi Datuk Poncan, bersama-sama dengan Residen
Kompeni Belanda bernama Conprus, mereka pindah dari Pulau Poncan ke
Pasar Sibolga. Pada tahun ini pula rawa-rawa besar itu ditimbun untuk
menyusunnya menjadi sebuah negeri pula.
Sibolga jolong basusuk
Banda digali urang rantau
Jangan manyasa munak barisuk
Kami sapeto dagang sansai
Maksudnya
yakni bahwa pada mulanya Kota Sibolga ini dibangun dengan menggali
parit-parit dan bendar-bendar untuk mengeringkan rawa-rawa besar itu,
dengan menggerakkan para narapidana (rantai) serta ditambah dengan
tenaga-tenaga rodi, ditim-bunlah sebagian rawa-rawa itu dan berdirilah
negeri baru Pasar Sibolga.
Di masa Sibolga dibangun menjadi kota,
istana raja yang berada di tepi Sungai Ack Doras dan pemukiman di
sekelilingnya dipindahkan ke kampung baru, Sibolga Ilir. Di atas komplek
tersebut dibangun pendopo Residen dan perkantoran Pemerintah Belanda.
Walaupun pada tahun 1871 Belanda menghapuskan sistem pemerintahan
raja-raja dan diganti dengan Kepala Kuria, namun Anak Negeri
menganggapnya tetap sebagai Raja dan sebagai pemangku adat.
Sementara
Datuk Poncan di Sibolga diberi jabatan sebagai Datuk Pasar dan tugasnya
memungut pajak anak negeri yang tinggal di Kota Sibolga terhadap warga
Cina perantauan, Di dalam melaksanakan tugasnya, Datuk Pasar dibantu
oleh Panghulu Batak, Pangulu Malayu, Pangulu Pasisir, Pangulu Nias,
Pangulu Mandailing dan Pangulu Derek.
Pada 1916 Datuk Stelsel
dihapuskan serta diganti dengan Demang Stelsel, mengepalai satu-satu
distrik menurut pembagian yang diadakan, dalam mana Pasar Sibolga masuk
Distrik Sibolga, sebagaimana beberapa resort kekuriaan. Untuk memudahkan
kontrol berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda,
Keresidenan Tapanuli dibagi menjadi tujuh Afdeling yaitu Afdeling
Singkil, Sibolga, Nias, Barus, Natal, Angkola dan Mandailing. Sedangkan
Afdeling Sibolga terdiri dari beberapa distrik yakni Distrik Sibolga,
Distrik Kolang, Tapian Nauli, Sarudik, Badari, dan Distri Sai Ni Huta.
Pada
masa Pemerintahan Militer Jepang, Kota Sibolga dipimpin oleh seorang
Sityotyo (baca: Sicoco) di samping jabatannya selaku Bunshutyo (baca:
Bunsyoco), tapi dalam kenyataanya adalah Gunyo yang memegang pimpinan
kota sebagai kelanjutan dari Kepala Distrik yang masih dijabat oleh
bekas demang, ZA Sutan Kumala Pontas.
Pada masa pendudukan
Jepang, Mohammad Sahib gelar Sutan Manukkar ditunjuk sebagai Kepala
Kuria dengan bawahan Mela, Bonan Dolok, Sibolga Julu, Sibolga Ilir, Huta
Tonga-tonga, Huta Barangan dan Sarudi. Beliau inilah yang menjadi
Kepala Kuria yang terakhir di Sibolga karena setelah zaman kemerdekaan,
sekitar tahun 1945 istilah Kepala Kuria praktis sudah tidak ada lagi.
Mengenai Sejarah Kuno Sibolga
Tidak
dapat diketahui secara pasti sejak kapan bumi Teluk Tapian Nauli mulai
dihuni orang. Namun berdasarkan sejumlah catatan sejarah, diperkirakan
sejak tahun 1500 sudah terjadi hubungan dagang antara para penghuni
Teluk Tapian Nauli dengan dunia luar yang paling jauh yakni negeri
orang-orang Gujarat dan pendatang dari negeri asing lain seperti Mesir,
Siam, Tiongkok. Para golongan terkemuka Tapian Nauli juga sudah dikenal
di Mesopotamia, paling tidak melalui sejarah lisan yang dibawa saudagar
Arab.
Tercatat pula bahwa pada tahun 1500 itu pelaut Portugis
sudah hilir mudik di lautan dalam rangka mencari dan mengumpulkan
rempah-rempah untuk dibawa ke Eropa. Uang Portugis yang beredar di
kalangan masyarakat yang berdiam di Teluk Tapian Nauli saat itu
merupakan salah satu bukti. Ketika itu keberadaan Teluk Tapian Nauli
sangat penting. Selain sebagai pangkalan pengambilan garam, dusun ini
terkenal juga sebagai pangkalan persinggahan perahu-perahu mancanegara
guna mengambil air untuk keperluan pelayaran jauh.
Peranan Teluk
Tapian Nauli sebagai pangkalan persinggahan dan pelabuhan dagang semakin
dikukuhkan ketika Belanda dan Inggris memasuki wilayah itu di kemudian
hari. Kapal Belanda di bawah pimpinan Gerard De Roij datang kepantai
Barat Sumatera—Teluk Tapian Nauli—pada 1601. Sedangkan Inggris memasuki
wilayah ini pada 1755.
Kehadiran dan gerak langkah Belanda dan
Inggris di Teluk Tapian Nauli bisa dilihat dari beberapa kronologi
peristiwa berikut ini:
1604 : Perjanjian antara Aceh dengan Belanda, yaitu antara Sultan Iskandar dengan Oliver.
1632 : Kapal Belanda mulai berhadapan dengan Inggris di Pantai Barat Sumatera dalam rangka kepentingan dagang.
1667 : Belanda mendirikan benteng (loji) di Padang.
1668
: Belanda mulai dengan politik adu domba, menghasut Tiku dan Pariaman
lepas dari Aceh. Barus pro Pagaruyung diusir dari berbagai tempat.
1669 : Setelah berkuasa di Sumatera Barat, Belanda mulai mengincar pesisir Tapanuli dan mendirikan loji di Barus.
1670
: Karena keserakahan Belanda (VOC) dengan praktek dagangnya yang
monopolistis, pemberontakan di Barus terhadap Belanda tidak dapat
dielakkan dan terus meningkat. Raja Barus dibantu oleh adiknya Lela
Wangsa berhasil mengusir Belanda dan menghancurkan loji Belanda.
1678
: Belanda dapat membalas, namun pada ketika itu perang sengit antara
Raja Barus dengan Belanda terus berkobar. Raja Barus melakukan taktik
gerilya. Putera raja di Hulu berhasil membuhuh dokter Belanda dan
seorang serdadu Belanda. Namun Belanda berhasil menangkap Raja I^ela
Wangsa dan membuangnya ke Afrika Selatan.
1733 : Belanda semakin
merajalela dengan berhasilnya menangkap Raja Barus. Seterusnya bukan
hanya Barus saja yang diserang, tapi Belanda juga menyerang Sorkam.
Kolang dan Sibolga.
1734 : Oleh karena Belanda telah melakukan
penyerangan terhadap Raja-Raja yang ada di Teluk Tapian Nauli, maka
Raja-Raja yang ada di Teluk Tapian Nauli mengkonsolidasikan diri, maka
lahun ini terjadilah peperangan secara besar-besaran terhadap Belanda.
Serangan datang dari Sibolga, Kolang, Sorkam dan Barus dipelopori anak
Yang Dipertuan Agung Pagaruyung.
1735 : Belanda terkejut dan
kewalahan menghadapi peperangan ini. Belanda melakukan penelitian, dan
ternyata diketahui bahwa semangat patriotisme yang dikobarkan dari Raja
Sibolga itulah sumber kekuatan. Belanda ingin melampiaskan rasa
penasarannya kepada Raja Sibolga, namun tidak berhasil, Antara 1755-1815
pesisir Pantai Barat Sumatera Utara, Teluk Tapian Nauli, berada di
bawah pengaruh Inggris. Pada 1755 Inggris memasuki Tapian Nauli dan
membuat benteng di Bukit Pulau Poncan Ketek (Kecil). Mereka mulai
menguasai loji-loji Belanda dan markas Aceh yang berada di pesisir Barat
Tapanuli.
1758 : Pasukan Inggris mulai mengusir loji-loji
Belanda dan juga markas Aceh dari pesisir barat Tapanuli. Silih berganti
usir-mengusir antara Inggris dengan Belanda.
1761 : Perancis meninggalkan Poncan. Kemudian Inggris datang bekerjasama dengan penduduk Tapian Nauli dan Sibolga.
1770
: Karena suasana perdagangan mulai tenang, maka Inggris mendatangkan
budak dari Afrika dan India untuk mengerjakan urusan dagang dan
perkebunan Inggris. Kuria Tapian Nauli dan Raja Sibolga merasa keberatan
atas tindak tanduk Inggris ini.
1771 : Stains East Indian Company Inggris di Tapanuli dinaikkan menjadi "Residency Tappanooly".
1775
: Karena dagang Inggris mulai menurun karena tidak mendapat simpati
dari Kuria Tapian Nauli dan Raja Sibolga, maka Belanda mengambil
kesempatan mengadakan perjanjian dagang dengan Kuria Tapian Nauli dan
Raja Sibolga.
1780 : Puncak perselisihan antara Belanda dengan
Inggris adalah persoalan monopoli garam. Kesempatan ini dipergunakan
oleh Aceh untuk menyerang Inggris di Teluk Tapian Nauli. Aceh untuk
sementara dapat menduduki Teluk Tapian Nauli, akan tetapi Inggris
meminta bantuan dari Natal dan Inggris kembali menduduki Tapian Nauli
(Poncan Ketek).
1786 : Aceh kembali menyerang Inggris di Tapian Nauli. Serangan ini tidak berhasil karena Inggris meminta bantuan ke Natal.
1801
: Jhon Prince ditetapkan menjadi Residen Tapanuli berkedudukan di
Poncan Ketek. Sejak saat itu Poncan Ketek mulai ramai didatangi oleh
orang Cina, India, dan lain-lain.
1815 : Residen Jhon Prince
mengadakan kontrak perjanjian dengan Raja-Raja sekitar Teluk Tapian
Nauli, termasuk Raja Sibolga. Perjanjian ini disebut "Perjanjian Poncan"
atau "Perjanjian Batigo Badusanak".
1825 : Inggris menyerahkan Poncan kepada Belanda, sebagai realisasi Traktat London 17-3-1824.
1850 : Belanda mulai menata pemukiman di Sibolga dengan menimbun rawa-rawa dan membuat parit-parit.
1851 : Pengukuhan Adat Pusaka di Teluk Tapian Nauli dan sekitarnya oleh Residen Tapanuli
Postingan Terkait.......
sejarah